Nah kali ini saya mau berbagi pengetahuan saya tentang "ADAB MAKAN DAN MINUM" sesuai dengan ajaran islam menuurut yang terkandung dalam Al-Qur'an.
- Seorang muslim tidak boleh menjadikan makan dan minum sebagai syahwat, tetapi meniatkan tujuan dalam makan dan minum untuk menguatkan badan, agar dapat melakukan ibadah, sehingga dengan makan minumnya tersebut ia akan diberikan pahala oleh Allah S.W.T.
Makan makanan yang halal
Allah Ta’ala telah
memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah
Ta’ala telah berfirman, yang artinya: ''Wahai orang orang yang beriman makanlah dari Rezeki yang baik
yang kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya
menyembah kepada-Nya.'' ( QS. Al-Baqarah/2: 172 )
Membaca ‘Bismillah’ sebelum makan dan minum
Berdasarkan hadits Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا أَكَلَ
أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى، فَإِذَا نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ
اسْمَ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ.
“Apabila
salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismillaah’, dan
jika ia lupa untuk mengucapkan bismillaah di awal makan, maka hendaklah ia
mengucapkan: ‘Bismillaah awwaalahu wa aakhirahu’ (dengan menyebut Nama Allah di
awal dan akhirnya).”
Dari ‘Umar
bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah
asuhan Rasulullah Saw., tanganku bersileweran di nampan saat makan." Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah
(bacalah bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang
ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari
no. 5376 dan Muslim no. 2022).
Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah, sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنَ أَكَلَ طَعَاماً
وَقَالَ: اَلْحَمْدُ ِِللهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ
غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa sesudah selesai makan berdo’a:
‘Alhamdulillaahilladzi ath‘amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni
walaa quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku
dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku),’ niscaya akan
diampuni dosanya yang telah lalu.”
Memuji makanan dan tidak mencelanya
Dianjurkan
memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah saw tidak pernah mencela
makanansama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan
apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR.
Muslim)
Menggunakan tiga jari ketika makan
Makan
dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian
menjilati jari dan wadah makan selesai makan. Ka’ab bin Malik radhiyallahu
’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah saw makan dengan tiga jarinya. Apabila
beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)
Rasulullah
saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah
ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya
(menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya
yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya
anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.
Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya
dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya. Berdasarkan hadits:
إِذَا سَقَطَتْ مِنْ
أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمِطْ ماَ كَانَ بِهَا مِنْ أَذَى ثُمَّ
لِيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ.
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang di
antara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor,
kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.”
Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak
memakannya hingga menjadi lebih dingin. Tidak boleh juga, untuk meniup pada
minuman yang masih panas, apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas
sebanyak tiga kali sebagaimana hadits Anas bin Malik.
كَانَ
يَتَنَفَّسُ فِي الشَّراَبِ ثَلاَثاً.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika minum,
beliau bernafas (meneguknya) tiga kali (bernafas di luar gelas).”
Begitu juga hadits Abu Sa’id
al-Khudri Radhiyallahu anhu:
نَهَى
عَنِ النَّفْخِ فِي الشُّرْبِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
untuk meniup (dalam gelas) ketika minum.”
Adapula hadits dari Ibnu
‘Abbas Radhiyallahu anhu:
نَهَى
أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي اْلإِناَءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيْهِ.
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang
untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.”
Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“مَا
مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ
يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ
لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.”
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih
buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat
menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia
dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan
sepertiga lagi untuk nafasnya.”
Menyantap
makanan dari yang terdekat
Makan mulai dari makanan yang terdekat. Umar Ibnu Abi Salamah
radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada
dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah saw. Tangan saya (kalau makan) menjelajah
semua bagian nampan. Maka Rasulullah saw menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah
bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat
denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Hadits ini sekaligus sebagai penguat dari adab makan sebelumnya
dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan.
Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat dipatuhi
oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara
makan saya setelah itu.“
Lalat
yang terjatuh ke makanan
Apabila lalat terjatuh dalam minuman Nabi saw bersabda, “Apabila
lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia
mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu
sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR.
Bukhari)
Selalu
menggunakan tangan kanan dan sambil duduk
Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan,
makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena
sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)
Rasulullah saw mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan
dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah saw dengan tangan
kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu
menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang
tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia
benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)
Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri,
tetapi yang lebih utama sambil duduk. Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari
kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits
hasan shahih)
Nabi saw melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah
radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia
menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)
Mendahulukan makan daripada shalat jika
makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah
siap disantap. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan
malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan
malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun
‘alaih) Faidahnya supaya hati kita
tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena
itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang
sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu.
Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.
Selalu
menggunakan tangan kanan dan sambil duduk
Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan,
makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena
sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).
Rasulullah saw mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan
dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah saw dengan tangan
kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu
menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut
tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia
benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim).
Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri,
tetapi yang lebih utama sambil duduk. Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari
kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits
hasan shahih).
Nabi saw melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah
radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia
menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim).
Duduk
ketika makan
Cara duduk Rasulullah saw ketika makan, Beliau bersabda,“Aku tidak
makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadits yang
menyatakan bahwa Rasulullah saw saat makan duduk dengan menduduki salah satu
kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dhaif (lemah). Yang benar adalah
Rasulullah saw duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam
tradisi Jawa) saat makan.
Dianjurkan makan sambil bicara, tidak diam
dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin
Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad)
dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, “Alhamdulillah
wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik
dari pada makan sambil diam.”
Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah (472)
Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari).Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengambil
nafas di luar gelas ketika minum
Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar
gelas.Rasulullah saw minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya
dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah
(472)
Apabila Nabi saw minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau
bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia
bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari)
Awas
mubazir
Jangan
berlebih-lebihan dan boros. Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara
sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS.
Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri
orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan
tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan
Telah
terjadi silang pendapat di antara ulama tentang hukum mencuci tangan sebelum
makan, apakah hal itu termasuk sunnah ataukah tidak? Yang lebih mendekati
kebenaran, bahwa mencuci tangan sebelum makan bukan termasuk perkara ibadah,
karena tidak adanya hadits yang shahih dalam masalah ini.
Imam
al-Baihaqi berkata, “Hadits mencuci tangan setelah makan adalah hasan. Dan
tidak ada hadits yang shahih tentang mencuci tangan sebelum makan.” (Al-Adab
asy-Syar’iah 3/371).
Namun
mencuci tangan dianjurkan apabila sekadar untuk menghilangkan kotoran yang
melekat pada tangan. Demikian yang ditegaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam
Tahdzib as-Sunan (10/166). (Lihat pula perinciannya dalam al-Adab asy-Syar’iah
3/369).
Walhasil,
mencuci tangan sebelum makan bukan sunnah secara mutlak, juga jangan
ditinggalkan secara mutlak. Apabila ada kotoran melekat, maka hendaklah dicuci,
jika tidak ada, maka tidak mengapa makan tanpa mencuci tangan.